Canon EOS Rebel 450D
Sejak era fotografi analog, seri EOS merupakan andalan Canon untuk memenuhi kebutuhan fotografer pemula maupun profesional akan kamera SLR yang mudah digunakan dan dapat diandalkan kinerjanya. Pada era digitalpun, EOS masih menjadi seri andalan Canon, terbukti pada seri Rebel 450D yang kami uji.
Beberapa fitur baru yang kami coba antara lain adalah Live View Shooting yang memungkinkan layar LCD aktif saat membidik. Kami mendapati, jika fitur ini diaktifkan, fasilitas autofokus tidak aktif. Pengguna harus memindah tombol selektor mode fokus pada lensa ke arah MF (Manual Focus). Fitur Live Shooting juga hanya dapat aktif pada mode pemotretan manual atau semi manual (AV, TV dan M). Sebenarnya, fitur Live View Shooting cukup membantu, terutama bagi pemotret pemula yang ingin mempertajam komposisi foto, mengingat LCD menampilkan garis-garis komposisi pada Live View Shooting.
Fitur lain yang sebenarnya cukup membantu saat membidik adalah fasilitas Histogram yang tidak hanya dapat ditampilkan pada mode preview hasil rekam foto, namun juga saat membidik. Dengan diagram histogram, pengguna dapat melihat tidak hanya pesebaran tonal (pencahayaan), namun juga pesebaran detail/tekstur sehingga pemotretan dapat lebih terkontrol. Sayangnya, fitur histogram hanya dapat ditampilkan pada Live View Shooting dan tidak dapat diaktifkan pada mode pemotretan tipikal (Potrait, Landscape, makro, Sport, Night Portrait).
Tibalah saat pengujian sensor cahaya. Kami memilih objek yang memiliki warna-warna dominan merah, hijau dan biru (warna spektrum sinar). Terpilihlah patung naga di atap kelenteng. Kondisi cuaca waktu itu cukup cerah. Kira-kira jam 8 pagi kami merekam contoh foto uji ini. Bagian patung tiara yang memiliki permukaan cat mengkilap dan reflektif cukup bagus untuk menguji kemampuan rekam detail di bagian highlight, sementara bagian dalam rongga mulut naga cukup bagus untuk menguji kemampuan rekam detail di bagian shadow (gambar 1).
Pemotretan kami lakukan dengan format file RAW dan color profile Adobe RGB yang berukuran antara 13-15 mega byte. Metode ukur yang kami pilih adalah Evaluative untuk mendapatkan nilai rata-rata dari berbagai titik acuan pengukuran. Sedangkan ASA yang kami pilih adalah 100 untuk mendapatkan saturasi warna yang maksimal.
Saat dilihat dengan fasilitas Level dan Histogram di perangkat lunak Adobe Photoshop, terlihat bahwa detail terekam cukup baik di bagian shadow dan midtone, namun hilang di beberapa bagian highlight (gambar 2).
Kami mencoba memastikannya dengan fasilitas Info dan mengarahkan ikon eyedropper ke arah refleksi di bagian patung tiara dan leher naga. Memang benar, pada bagian tersebut terlihat nilai RGB ada di atas angka 250 yang berarti warna putih murni, tidak ada detail di bagian itu (gambar 3).
Kami mengarahkan juga ikon eyedropper ke bagian rongga mulut naga yang mewakili shadow. Jendela Info menunjukkan nilai RGB di bagian itu masih di atas angka 5. Artinya, bagian itu masih mengandung detail dan belum menjadi warna hitam murni (gambar 4).
Kami juga menggunakan objek wayang kulit yang disinari dari samping (sidelight-untuk menonjolkan tekstur) untuk menguji tingkat ketajaman rekaman terhadap tekstur dan pola. Relung ukiran pada wayang kami nilai cukup baik untuk mengujinya. Hasilnya cukup memuaskan. Detail dan tekstur di bagian kulit bahan wayang terekam jelas, demikian pula tekstur styrofoam yang menjadi alasnya (gambar 5).
Kesimpulan: Canon EOS Rebel 450D mampu memenuhi kebutuhan fotografer profesional maupun pemula. Banyak fitur yang membuat pemotretan lebih terkontrol, antara lain Live View Shooting, Histogram dan grid komposisi yang aktif saat pembidikan, fasilitas konfigurasi dan koreksi White Balance.
Plus: Kaya fitur untuk mengontrol pemotretan. Rekaman saturasi warna cukup baik dan natural. Rekaman detail/tekstur di bagian gelap cukup baik.
Minus: Belum maksimal menangani detail di bagian highlight.
—
—
Sony Alpha A700
Satu lagi bukti bahwa CMOS layak menjadi sensor cahaya bagi kamera SLR digital, tidak kalah dengan CCD.
(Kamera_Sony_Alpha_A700_Tombol.JPEG) Paduan system dial dan joystick pada tombol menu operasi sangat membantu kecepatan dan kenyamanan pemotretan.
Setelah menggunakan sensor cahaya jenis CCD pada seri sebelumnya (Sony Alpha A100 serta A200), kini Sony menggunakan CMOS beresolusi 12,24 mega piksel pada Sony Alpha A700. Sensor cahaya ini dilengkapi dengan mekanisme image stabilizer sehingga terasa menolong saat pengguna memotret dengan kecepatan rana rendah atau saat menggunakan lensa panjang. Untuk menjaga umur sensor cahaya, terdapat mekanisme anti debu yang dapat membersihkan sensor cahaya.
Rangka kamera begitu kokoh karena terbuat dari bahan aluminium dan dibalut dengan magnesium alloy. Tak kalah protektifnya, tombol-tombol pada kamera dilengkapi dengan sekat dari bahan karet yang melindungi dari uap air, embun maupun udara basah.
Ada hal yang menjadi ganjalan, yaitu tentang kompatibilitas dudukan lensa, mengingat Sony merupakan pendatang baru dalam kancah kamera SLR. Namun ternyata, body Sony Alpha A700 dapat dipasangi lensa dengan mounting Minolta tipe A.
Saat menguji Sony Alpha A700, kami mendapatkan karakter rekaman foto yang memiliki kontras relatif tinggi, namun tetap dapat mempertahankan detail/tekstur di bagian terang (highlight).
Rekaman detail yang paling bagus kami dapatkan pada setelan kontras relatif rendah, yang dikombinasikan dengan ISO/ASA rendah serta format file foto Raw.
Pengguna disuguhi keleluasaan dalam mengatur tingkat kontras maupun saturasi (tingkat kejenuhan dan kematangan) warna.
Ukuran sensor cahaya CMOS yang terbilang cukup besar “berbicara” saat kami mencoba merekam foto dalam kondisi cahaya temaram, tanpa lampu kilat. Pada ISO 1600, hasil rekaman menunjukkan kualitas yang masih prima.
Perbedaan kualitas rekaman detail cukup signifikan antara rekaman dengan format file JPEG dan format file Raw. Ketajaman, tekstur atau detail terekam secara istimewa pada file Raw, sebaliknya cukup banyak hilang pada format file foto JPEG.
Di bawah penerangan cahaya matahari yang cerah, Sony Alpha A700 memberikan warna yang natural, dengan penonjolan saturasi pada biru dan merah. Sementara itu, di bawah penerangan lampu, tanpa lampu kilat, serta setelan white balance auto, rekaman foto cenderung bernuansa hangat (kemerahan). Menariknya, setiap tingkat kompensasi cahaya akan memberikan penekanan suhu warna yang berbeda.
Kami memilih menggunakan profil warna Adobe RGB karena hasil konversi file Raw ternyata paling baik diperoleh menggunakan perangkat lunak Adobe Camera Raw. Selain Adobe Camera Raw, program konversi file RAW yang disertakan adalah Sony Image Data Converter SR versi 2.
Walaupun kamera ini menyediakan lampu kilat built-in di atas rumah prisma penta, serta selorok (hotshoe) lampu kilat tambahan, namun jenisnya bukanlah universal, sehingga tidak kompatibel dengan lampu kilat merk mandiri dari pihak ketiga. Hal ini tentu mengurangi fleksibilitas.
Kesimpulan:
Sony Alpha A700 cukup memenuhi kebutuhan fotografer serius dan profesional yang membutuhkan kualitas rekaman detail serta warna. Sesuai juga untuk studio foto maupun fotografer alam.
Plus: Rekaman warna dan detail (tekstur) pada semua jangkauan tonal. Dukungan sistem image stabilizer.
Minus: Selorok lampu kilat tidak universal.









